Saat saya dalam kunjungan ke Hongkong bulan February 2013 yang lalu, saya sempat menerima konsultasi by phone dari seorang sahabat BMI. Permasalahannya adalah dia terlalu baik hati sehingga mudah dimanfaatkan oleh sesama teman BMI yang nakal. Lho kok bisa...???
Ya..
Dia dengan ringan tangan ingin membantu temannya yang hendak berhutang di Bank dengan menjadi saksi, namun apa lacur.. Teman tersebut mengelak dari tagihan Bank alias tidak dapat membayar cicilan hutangnya tersebut. Dan akibatnya adalah dia sekarang yang menanggung pembayaran hutang dari temannya tersebut. Kebaikan hatinya, membuatnya terjebak dalam hutang Bank yang tidak dilakukannya.
Dari cerita beberapa sahabat BMI mengatakan, bahwa peristiwa seperti ini kerap kali terjadi. Bahkan dalam modus yang tidak terduga. Umpamanya, fihak BANK menelfon dia dan menanyakan padanya apakah dia kenal dengan temannya tersebut. Dan ketika dia menjawab kenal. Maka secara otomatis dia dianggap sebagai Saksi Penjamin pinjaman temannya tersebut di Bank.
Jadi ternyata, hanya dengan menerima telfon dari Bank saja secara hukum sudah kena tanggung jawab, apalagi bila menjadi saksi pendamping saat meminjam di Bank.
Berikut ini saya kutipkan cerita seorang teman BMI yang saya copaskan dari Kompasiana dot com
TREND HUTANG DI KALANGAN BMI
Santi berapi-api menceritakan kawannya yang katanya dihajar habis-habisan oleh majikannya. Tak hanya bicara, tangan dan kakinya pun ikut meramaikan ceritanya, dia bilang, “ Wah, kemarin malam si Murni dicekik sama bosnya, terus ditendang sampai terpental ke jiso (kamar mandi, red), si bos maki-maki dia terus akhirnya dia diterminate (dipecat) malam itu juga disuruh balik ke agen”. Aku cuma melongo kaget antara percaya dan tidak, lalu ada yang menyahut, “Wah itu bos biadab harus dituntut tuh. Sempet telpon polisi gak?” Santi menjawab, “ Ya gak ada yang bantuin telpon polisi lha wong dia sendiri yang kurang ajar.” Ternyata menurut Santi, Murni berhutang sejumlah uang ke bank dan Santi sebagai saksinya (semacam penjamin). Beberapa hari sebelumnya Santi ditelepon pihak bank karena Murni telat membayar cicilan dan dia mematikan HP serta tidak mau mengangkat telepon rumah. Awalnya Santi bicara baik-baik kepada Murni agar segera membayarkan cicilan hutang tapi Murni malah memaki dan menanggapi saran Santi dengan kata-kata yang kasar. Karena tidak tahan diteror telepon dari bank dan mendapatkan perlakuan tak simpatik dari Murni akhirnya Santi nekat mendatangi rumah majikan Murni pada hari Minggu dan menceritakan segalanya kepada majikan Murni.
Cerita seperti ini bukan hal yang baru bagi kami. Bahkan saya sendiri pernah mengalami menjadi saksi hutang di bank yang akhirnya saya kena batunya. Saat itu teman saya memutuskan kontrak dan pulang ke tanah air setelah mengambil hutang bank. Jadi mau tak mau akhirnya saya yang menanggung cicilan setiap bulannya. Untung saja Yang Maha Kuasa memberikan jalan kepada saya untuk mendapatkan uang saya kembali walau saya harus pasang muka tembok menagih dia terus menerus. Walau risih juga tapi saya tidak mau hasil jerih payah saya berbulan-bulan hilang begitu saja.
Bukan sekali dua kali saya mendengar cerita serupa. Beberapa waktu lalu, sahabat saya yang sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri juga kena. Kasusnya mirip yang saya alami, dia jadi saksi dan pengutangnya pergi entah kemana. Pengutangnya itu pun sempat mengirim SMS kepada sahabat saya, katanya jangan kuatir semua uang yang dia keluarkan untuk membayar hutang banknya bakal segera dia ganti. Tapi saya tidak tahu pasti kelanjutannya karena sahabat saya sudah pulang ke Indonesia.
Ada juga yang bernasib miris, hutang bank karena ditipu pacarnya. Saya tidak tahu dengan cara apa pacarnya yang dari kebangsaan orang hidung mancung itu bisa mempengaruhi teman kita ini dengan sedemikian rupa sehingga dia rela mengajukan hutang dengan jumlah yang tak sedikit. Mungkin saja si pacar merayu dengan mulut manisnya bilang dia sendiri yang akan membayar cicilan per bulannya. Tapi apa daya, uang diterima, si pacar pun menghilang tanpa jejak. Tinggal si gadis yang mengumpat dan menggerutu karena tiap bulan hanya kerja bhakti, cuma dapat capek tanpa hasil karena semua uang gajinya habis untuk menyicil tanggungan bank yang dia tidak pernah ikut memakainya. Untuk gambaran, si gadis meminjam uang sebesar HK $30.000, dia harus menyicil sebesar $2890 selama 14 bulan. Kalau dijumlah uanga yang dia bayarkan seluruhnya sebesar HK $40.460. Wow jumlah yang fantastis. Bunganya benar-benar gila-gilaan. Dengan meminjamkan uang sebesar HK$30.000, bank mendapatkan untung dari bunga sebesar HK$10.460 atau kira-kira sebesar Rp.11 juta (dihitung dengan kurs 1100). Andaikan uang itu masuk tabungan si gadis, dia sudah punya simpanan yang cukup untuk masa depannya.
Tak hanya itu, rentenir yang juga sama-sama BMI juga tidak sedikit. Mereka memberikan hutang dengan jaminan paspor peminjam. Bunganya bervariasi, dari yang “hanya” HK$100 per minggu sampai HK $ 900 per bulannya. Teman BMI kita sebut saja namanya Dara juga kerap berurusan dengan rentenir yang seperti ini. Karena gaya hidupnya yang boros, kerap kali belum sampai gajian dia sudah kehabisan uang padahal dia masih harus libur di hari Minggu sedangkan Dara tidak mau kerja lembur untuk menghemat pengeluaran sekaligus mendapat tambahan uang. Satu-satunya jalan keluar ya meminjam uang ke rentenir dengan jaminan paspor. Suatu kali Dara meminjam uang sebesar $2000, karena kelalaiannya dan tentu saja kebutuhan-kebutuhan yang tidak dapat dikompromi, uang tersebut tidak terbayarkan hingga lebih dari setengah tahun padahal selain pinjaman pokok, Dara harus membayarkan bunga sebesar $900 per bulannya. Setelah sekian lama dan tuntutan pembaruan paspor, akhirnya Dara menghubungi si rentenir. Tidak semudah itu mendapatkan paspornya kembali karena paspornya sudah dipindahtangankan ke rentenir yang lain. Setelah pembawa paspornya ketemu dara juga harus membayarkan hutangnya yang sudah membengkak, dari cuma $2000 menjadi $9800. Oh Tuhan, sayang sekali uang sebegitu banyak diberikan kepada orang lain secara cuma-cuma demi menuruti hawa nafsu gaya hidup ala Hong Kong.
Seyogyanya, kita yang diberikan kesempatan bekerja di sini bisa memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya. Bersenang-senang boleh tapi jangan melampaui batas agar kerja keras kita tidak sia-sia. Kalau begini siapa yang rugi kalau bukan diri kita sendiri. Mari kita kuatkan tekad untuk memperbaiki hidup masing-masing dengan menghindari pengeluaran yang tidak perlu, rajin menabung dan menjaga diri dari pergaulan yang salah.
So...
Waspadalah....
Jangan sampai anda tidak merasakan Nangkanya, namun ikut merasakan getahnya...
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 September 2013
Senin, 12 Agustus 2013
Spirit Merantau
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berleha-lehalah nanti karena manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
Jika di dalam hutan.
~Imam syafii~
Langganan:
Postingan (Atom)
